WKPUB Kembali Gelar Syukur Awal Tahun 2026: Doa Lintas Iman Merajut Persaudaraan di Tengah Gejolak Dunia
Perisaihukum.biz.id – Jakarta, Di tengah dinamika global yang penuh ketegangan—mulai dari konflik Rusia–Ukraina, krisis kemanusiaan di Jalur Gaza, hingga ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran—suasana berbeda terasa di Aula Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (24/1/2026). Di tempat inilah Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Bersama (WKPUB) kembali menggelar Syukur Awal Tahun 2026, sebuah perhelatan lintas iman yang telah menjadi tradisi selama lebih dari dua dekade.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan ruang perjumpaan kemanusiaan. Tokoh-tokoh lintas agama, unsur pemerintah, organisasi kemasyarakatan, seniman lintas budaya, hingga komunitas lansia dan anak-anak, hadir dalam satu harmoni: mendoakan Indonesia dan meneguhkan komitmen kebersamaan.

Sejak penyambutan tamu yang diiringi musik marawis AISA 5—musik perkusi bernuansa Islami yang bergema di aula gereja—nuansa moderasi beragama langsung terasa. Prosesi dilanjutkan dengan tari tor-tor dan gondang oleh Naposo HKBP Kramat Jati, menandai perjumpaan budaya dan iman yang saling menghormati.
Doa pembukaan dan sambutan tuan rumah disampaikan oleh Pdt. Dr. Martongo Sitinjak, pimpinan HKBP Resort Kramat Jati. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa perbedaan agama tidak boleh mengaburkan tujuan bersama sebagai sesama anak bangsa. “Walaupun kita berbeda agama, tujuan kita tetap sama: cinta pada kemanusiaan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa gejolak politik dunia berpotensi berdampak pada kehidupan umat beragama di Indonesia, sehingga persatuan lintas iman menjadi kebutuhan mendesak.
Pdt. Dr Martongo Sitinjak menekankan bahwa meskipun ada perbedaan agama di antara anggota WKPUB, tujuan mereka tetap sama: cinta pada kemanusiaan. Hal ini terutama penting dalam menyikapi gejolak politik dunia, seperti perang Rusia-Ukraina, konflik berkepanjangan di Jalur Gaza Palestina-Israel, ketegangan politik AS-Iran, dan rencana negara adidaya menguasai Greenland. Gejolak politik ini dapat mengganggu kehidupan umat beragama di Indonesia. Oleh karena itu, umat beragama perlu bersatu, tanpa membedakan agama, untuk menghadapi arus kemajuan yang cepat.
Momentum kebangsaan semakin kuat ketika Lagu Indonesia Raya dan Satu Nusa Satu Bangsa dikumandangkan, disusul mengheningkan cipta dan doa belarasa bagi para korban bencana. Laporan panitia disampaikan oleh Linda Silaban, sebelum memasuki inti acara: Doa Bersama Lintas Iman.
Doa-doa dipanjatkan secara bergiliran oleh para tokoh agama: dari Islam oleh H. Ahmad Ridwan, Kristen Protestan oleh Pdt. Filemon Sigalingging, Katolik oleh perwakilan Paroki Keluarga Kudus Rawamangun, Hindu oleh Pandita Ketut Wardika, serta Khonghucu oleh Wandi Suwardi. Setiap doa membawa pokok refleksi yang berbeda—mulai dari kepemimpinan nasional, keutuhan bangsa, program sosial pemerintah, pelestarian lingkungan, penanggulangan bencana, hingga pemberantasan korupsi dan narkoba—namun berpulang pada satu tujuan: kebaikan bersama.
Ketua Umum WKPUB Jakarta, Pdt. Emeritus Hosea Sudarna, S.Th., M.Si., dalam sambutannya mengingatkan bahwa WKPUB berdiri pada 1999, pascakerusuhan Mei 1998. Sejak saat itu, doa syukur lintas agama tidak pernah terputus. “Sudah 26 tahun kami konsisten menggelar doa bersama. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi komitmen merawat Indonesia yang majemuk,” katanya. Ia juga menyinggung berlakunya KUHP baru per 1 Januari 2026, yang memberikan sanksi pidana bagi siapa pun yang mengganggu peribadatan atau menghasut kebencian antarumat beragama dan untuk menegakkan moderasi beragama WKPUB mendapat dukungan dari komunitas wartawan Perkumpulan Gereja atau PWGI, yang diketuai Dr. Dharma Leksana yang telah melahirkan sebuah Novel tentang kerukunan beragama dengan judul “SAMI SEGER WARAS” sebagai bentuk dokumentasi praktek toleransi beragama secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Dukungan pemerintah ditegaskan melalui sambutan Pelaksana Tugas Pembimas Kristen Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta, Antonius Sinaga, M.M., M.Si. Menurutnya, doa lintas iman merupakan perwujudan konkret kerukunan. “Semua orang sebaiknya dipandang sebagai saudara, tanpa kehilangan identitas masing-masing,” ujarnya, seraya memuji tampilnya musik marawis di ruang gereja sebagai simbol nyata moderasi beragama.
Nuansa kebhinekaan semakin hidup lewat rangkaian seni budaya: Tari Rupo Kembyang dari Banyuwangi, tarian Betawi, drama anak-anak Pesantren Assalam yang mengangkat pesan moderasi beragama, permainan angklung oleh lansia HKBP Kramat Jati, hingga atraksi barongsai yang menutup acara dengan semarak. Setiap penampilan seolah menegaskan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekayaan.
Apresiasi juga datang dari Pemerintah Kota Jakarta Timur. Kepala Sub Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Eliezer Hutapea, M.Si., menyampaikan bahwa Gubernur DKI Jakarta berhalangan hadir karena tugas penanganan banjir. Namun demikian, ia menilai WKPUB sebagai bagian penting dari ribuan organisasi kemasyarakatan yang berperan aktif menjaga harmoni sosial, khususnya di Jakarta Timur yang multikultural.
Kegiatan ditutup dengan doa oleh Ustadz Akmal Sidik, Ketua Bidang Sosialisasi Forum WKPUB Jakarta Timur, yang menekankan tema “melayani bersama keluarga” sebagai fondasi harmoni sosial. Bagi WKPUB, Syukur Awal Tahun bukan sekadar agenda rutin, melainkan pernyataan sikap: bahwa di tengah dunia yang terbelah oleh konflik dan polarisasi, persaudaraan lintas iman tetap mungkin—dan perlu—dirawat secara sadar.
Dari HKBP Kramat Jati, pesan itu kembali digaungkan: Indonesia berdiri teguh karena kemajemukannya, dan kerukunan bukan warisan otomatis, melainkan hasil kerja bersama yang terus diperjuangkan.
(Mas Dharma L/Red.***)
