Memaknai 1 Suro 2026 sebagai Momentum Spiritual
Oleh : Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Perisaihukum.biz.id – Jakarta, Bagi masyarakat Jawa, pergantian tahun dalam kalender Jawa bukan sekadar penanda waktu di atas kalender. Tanggal 1 Suro, yang pada tahun 2026 ini jatuh sebagai momentum yang sakral, hadir sebagai pengingat utama bagi jiwa untuk kembali pada esensinya. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, 1 Suro menjadi jeda yang sangat diperlukan—sebuah titik balik untuk eling lan waspada (ingat kepada Tuhan dan senantiasa waspada dalam menjalani hidup).
Kedalaman Filosofis 1 Suro: Sebuah Perjalanan ke Dalam Diri
1 Suro bukanlah waktu untuk perayaan yang penuh hura-hura. Sebaliknya, ini adalah momentum untuk menepi, mengheningkan cipta, dan melakukan mawas diri. Filosofi mendalam yang terkandung di dalamnya menuntun manusia pada pembersihan jiwa dari “karat batin” yang mungkin menumpuk sepanjang tahun.
1. Introspeksi dan Menepi (Tirakat)
Pada malam 1 Suro, banyak masyarakat Jawa yang melakukan laku tirakat, seperti semedi, tapa bisu, hingga berpuasa. Tujuan utamanya bukanlah untuk mencari kekuatan supranatural, melainkan meredam suara ego. Ketika kebisingan duniawi diredam, Roso Sejati akan lebih mudah dirasakan. Inilah saat di mana seseorang berhenti berlari ke luar dan mulai menengok ke dalam diri sendiri.
2. Memperkuat Hubungan dengan Sang Pencipta
Dalam khazanah kebatinan Jawa, 1 Suro adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan sumarah atau berserah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Ini adalah momen krusial untuk:
- Memperbarui niat hidup: Meluruskan kembali tujuan hidup agar tetap berada di jalur yang benar.
- Memohon tuntunan: Meminta bimbingan Gusti dalam melangkah di masa depan.
- Membersihkan pamrih: Melepaskan diri dari keserakahan dan keinginan yang hanya mementingkan ego semata.
3. Simbolisme Penyucian (Ruwatan dan Jamasan)
Tradisi seperti ruwatan, pelukatan, dan jamasan pusaka sering kali disalahpahami oleh banyak orang. Benda-benda pusaka yang dibersihkan atau ritual penyucian yang dilakukan bukanlah wujud pemujaan terhadap benda mati. Sebaliknya, semua itu adalah simbol untuk membersihkan diri sendiri. Seperti halnya pusaka yang dibersihkan dari karat agar kembali tajam, batin manusia pun harus dibersihkan agar kembali jernih dalam memandang kehidupan.

Menuju Keselarasan Tri-Gati
Makna terdalam dari 1 Suro adalah upaya mengembalikan Tri-Gati—yaitu Gati Pikir (pikiran), Gati Raga (fisik), dan Gati Rasa (perasaan)—ke dalam sebuah keselarasan yang sempurna. Ketika ketiganya selaras, Sukma Sejati akan lebih mudah menyadari cahaya asalnya dan terbuka pada tuntunan Jagad Kawedar (kehidupan yang terbuka dan luas).
Di malam 1 Suro, kita diajak untuk menjernihkan rasa, menata pikiran, dan menyelaraskan laku hidup. Mengutip ungkapan Jawa yang bijak:
“Suro dudu wektu golek kesaktèn, nanging wektu ngasah kasunyataning rasa.”
(1 Suro bukanlah waktu untuk mencari kesaktian, melainkan waktu untuk mengasah kejujuran dan ketajaman rasa).
Penutup
Tahun 2026 ini, mari jadikan 1 Suro sebagai gerbang menuju kedamaian batin. Jangan lagi terjebak pada anggapan bahwa malam ini adalah malam yang angker atau penuh mistis pencarian kekuatan gaib. Sebaliknya, jadikan ia malam untuk mendekat kepada Sang Sumber Kehidupan. Dengan hati yang jernih dan pikiran yang tenang, kita siap melangkah memasuki lembaran tahun baru dengan penuh kesadaran dan ketulusan.
Selamat menyambut 1 Suro. Semoga laku batin yang kita lakukan membawa kita pada ketenangan jiwa dan tuntunan Ilahi.

Profil Penulis :
Dr. Dharma Leksana, S.Th., M.Th., M.Si., adalah teolog, wartawan senior, dan pendiri Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI). Ia menempuh studi teologi di Universitas Kristen Duta Wacana, melanjutkan Magister Ilmu Sosial dengan fokus media dan masyarakat, serta meraih Magister Theologi melalui kajian Teologi Digital. Gelar doktoralnya diperoleh di STT Dian Harapan dengan predikat Cum Laude lewat disertasi Algorithmic Theology: A Conceptual Map of Faith in the Digital Age.
Sebagai penulis produktif, ia telah menerbitkan ratusan buku akademik, populer, dan sastra, di antaranya Teologi Algoritma: Peta Konseptual Iman di Era Digital dan Membangun Kerajaan Allah di Era Digital. Kiprahnya menjembatani dunia teologi, media digital, dan transformasi
